
Dalam kehidupan ini, manusia seringkali mengukur nikmat berdasarkan harta, kesenangan, jawatan, atau pujian manusia.
Namun, ukuran sebenar nikmat di sisi Allah bukanlah apa yang memuaskan nafsu, tetapi apa yang membawa hati semakin tunduk kepada-Nya.
Sebaliknya, jika sesuatu yang tampak seperti nikmat akhirnya menjauhkan kita daripada Allah, ia bukan lagi satu rahmat—tetapi satu bencana yang tersembunyi.
Nikmat Yang Melalaikan Itu Istidraj
Firman Allah SWT dalam Surah Al-An’am, ayat 44: “Maka ketika mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami bukakan bagi mereka pintu segala kesenangan; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka secara tiba-tiba, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.”(Surah Al-An’am: 44)
Ayat ini memperlihatkan bagaimana kesenangan yang berpanjangan, jika tidak disyukuri dan membawa kepada kelalaian, sebenarnya adalah bentuk istidraj—iaitu perangkap dalam bentuk nikmat.
Rasulullah SAW juga bersabda:
“Apabila kamu melihat Allah memberikan kenikmatan dunia kepada seorang hamba yang maksiat padahal dia masih terus bergelumang dengan dosa, maka ketahuilah itu adalah istidraj.”(Riwayat Ahmad dan al-Tabarani, dinilai hasan oleh al-Albani)
Ini menjadi peringatan penting bahawa nikmat yang tidak membawa kita dekat dengan Allah bukanlah bukti keredaan-Nya.
Ukuran Nikmat Sebenar: Dekat dengan Allah
Nikmat yang sebenar ialah segala sesuatu yang menyuburkan iman dan amal, walaupun bentuknya kadang-kadang berupa ujian atau kepayahan.
Allah SWT berfirman: “Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.”(Surah Al-Baqarah: 155)
Ujian ini seringkali menjadi pintu kembali kepada Allah, jauh lebih besar nilainya berbanding nikmat zahir yang melalaikan.
Kisah: Qarun dan Nikmat yang Membinasakan
Dalam Surah Al-Qasas, Allah menceritakan tentang Qarun yang dianugerahkan harta melimpah ruah. Namun, hartanya membuatkan dia angkuh dan lupa kepada Allah.
Akhirnya, dia dan hartanya ditelan bumi: “Maka Kami benamkan dia bersama rumahnya ke dalam bumi. Maka tiada satu golongan pun yang dapat menolongnya selain Allah.”(Surah Al-Qasas: 81)
Kisah ini menjadi pelajaran bahawa harta bukan jaminan kejayaan, dan nikmat dunia yang tidak disertai dengan syukur serta ketaatan hanyalah istidraj menuju kehancuran.
Penutup
Nilai sesuatu nikmat bukan pada banyak atau megahnya, tetapi pada sejauh mana ia membawa hati kita lebih dekat dengan Allah.
Maka, muhasabahlah: apakah nikmat yang kita kejar hari ini menjadikan kita lebih khusyuk dalam solat, lebih ringan memberi sedekah, lebih sabar dalam ujian, dan lebih takut kepada hari akhirat?
Jika tidak, barangkali ia bukanlah nikmat… tetapi bencana yang menyamar dalam bentuk yang kita sukai.
“Ya Allah, jadikanlah dunia di tangan kami, bukan di hati kami; dan jadikanlah setiap nikmat yang Kau kurniakan sebagai jalan menuju reda-Mu.”